Tuesday, October 27, 2015

NHS

Kami sedang baring bersebelahan di atas katilnya. Aku berada di sebelah kiri katil, dihimpit antara dinding konkrit yang sejuk dengan tubuhnya yang hangat. 

Sebelah tangan kami saling berpautan antara satu sama lain, dan setiap ruang di celah jari kami terisi dengan sendirinya. 

Yang kedengaran cuma bunyi kipas siling, dan detik dari jam dinding. 

Wajahnya aku tatap, dengan nafasnya terasa rapat. Aku pejamkan mata dan melepas hela yang penuh dengan hampa, menambah bunyi yang ketiga dalam kesunyian malam. 

Matanya mulai berkaca terisi perasaan kesal, dan bibirnya mulai berdetak untuk mengungkapkan perkataan yang takkan pernah terucap. Hidungnya mulai pedih dan merah, sebaknya terasa dan dia mulai lelah.

Sudah seminggu kami tidak berhubung. Topik pertengkaran terakhir kami bukannya tentang perkara yang menarik. Ianya mengenai kesibukan aku dan kerinduan dia.

Dan seminggu kemudian, inilah yang terjadi. Kami sedang terbaring dan saling berhadapan, saling mengisi jawapan dalam kotak silang kata dan mencari jalan keluar dari labirin. 

Kami berdua saling tahu, yang rindu itu saling terasa. Cuma yang menjadikannya rumit, adalah masa. 

Rumah Natang, 3.52 pagi.

1 comment:

Anis Shazwani said...

Hidup rumah natangggggg!!!!!